Peran Institusi Pendidikan Tinggi terhadap kebangkitan Nasional

BUDI UTOMO yang didirikan pada tanggal 20 Mei 1908 Masehi adalah suatu bukti nyata keinginan pemuda untuk membuat sebuah komunitas elit yang kelak akan menginisiasi kemerdekaan Indonesia.

Kelahiran Budi Utomo sebagai organisasi terdidik diperingati sebagai hari kebangkitan nasional. Peringatan tersebut tentunya memilii makna harfiah yang tinggi karena dengan berdirinya budi utomo, kegiatan perjuangan bangsa Indonesia mulai bersatu dan tidak terpecah di setiap daerah.

Lantas, siapa yang meneruskan perjuangan budi utomo ketika Indonesia sudah merdeka? Tentunya kelompok elit lah yang memiliki kewajiban yang besar untuk menginisiasi sebuah gerakan untuk membangkitkan kejayaan Indonesia. Siapa kelompok elit yang dimaksud? Para bangsawan kah? Para koruptor kah? Para pejabatkah? Atau siapa?
Kelompok elit adalah suatu kelompok yang memiliki paradigma dan pola pikir yang luas dalam memandang suatu permasalahan. Komunitas yang memiliki Ideologi yang masih berpegang teguh pada nilai-nilai idealisme perjuangan. Merekalah para Mahasiswa.


Mahasiswa sudah membuktikan dirinya sebagai suatu kumpulan orang yang mampu meruntuhkan rezim orde baru dan langsung menggantinya dengan era reformasi demokrasi. Peran mahasiswa sungguh sangat vital dalam keberlangsungan negri ini karena merekalah yang kelak akan meneruskan estafet kepemimpinan negri ini.

Namun, tak dapat dipungkiri bahwa dalam keberjalanan proses regenerasi kepemimpinan, banyak sekali hambatan-hambatan yang tidak mendukung tercapainya suatu tujuan negri ini, diantaranya adalah masuknya partai-partai politik ke dalam organisasi mahasiswa dan mempengaruhi pola pikir idealisme mahasiswa. Dan intervensi partai politik tersebut tidak dapat dihindari karena banyak yang masuk secara diam-diam terhadap individu, tidak secara lembaga.

Disinilah peran kampus sebagai institusi pendidikan tinggi diuji. Apakah pihak universitas mampu mengoptimalisasi fungsi mahasiswa sebagai cadangan massa depan (Iron Stock) dengan memberikan kemampuan yang mumpuni di bidang keilmuannya dan membimbing mahasiswa agar bisa membuat sebuah perubahan (agent of Change) baik dari sisi inovasi teknologi, seni, budaya, bahasa, dan aspek-aspek lainnya. Mampukah pihak institutsi pendidikan tinggi memberikan hal tersebut?

Mahasiswa selain menjalankan tugasnya sebagai iron stock dan agent of change. Dia pun harus sebagai Penjaga nilai (guardian of value). Penjaga nilai-nilai luhur idealism, nilai-nilai luhur nasionalisme yang harus tetep dipegang teguh oleh mahasiswa. Mahasiswa tidak boleh berfikir pragmatis dan egois mementingkan dirinya sendiri saja. Perlu adanya kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan sekitar.

Disinilah peran kampus yang ketiga untuk menjaga mahasiswa agar mampu menjadi penjaga nilai-nilai luhur bangsa ini. Dan semuanya harus tergantung kepada Tri Darma pendidikan tinggi yang termaktub dalam 3 kata, Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Setiap individu baik mahasiswa maupun akademisi kampus harus bertindak sesuai proporsinya, ketika dia memimpin, dia harus memberikan sebuah teladan. Di tengah memberikan bimbingan, dan di belakang memberikan dorongan. Sesuai dengan kata-kata Ki Hajar Dewantara (Ing Ngarso sang tulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani).

Dan sebagai institusi pendidikan, wajib memberikan pelajaran sejarah kepada mahasiswa agar bisa menjadikan mahasiswa lebih bijak dalam menilai sesuatu, lebih menghargai sesuatu dan juga sebagai proses belajar bagi mahasiswa agar lebih baik lagi.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s