Si Usman dan sang Lintah Darat

Pagi itu, seusai menunaikan ibadah solat Idul Adha, aku mengunjungi rekan-rekan Buruh Migran Indonesia (BMI) yang sedang mbercakap-cakap di area Masjid Besar Taipei. Disana aku berkenalan dengan salah satu BMI asal Solo yang terlihat sedang murung, sebut saja namanya Usman (Nama disamarkan).

Aku pun membuka percakapan dengan usman dengan menanyakan beberapa hal simpel, seperti asal, kerja dimana, dan hal-hal umum lainnya. Beliau pun balik bertanya kepadaku, aku pun menjawab dan menjelaskan bahwa aku adalah mahasiswa S2 asal Cirebon.

Percakapan pun terus berlanjut sampai dia bercerita kepadaku perihal kondisi kehidupannya. Usman menceritakan bahwa sebelum dia berangkat kesini, dia harus mempersiapkan uang sebesar Rp. 42 juta untuk bisa bekerja disini, dan karena dia tidak memiliki uang, maka dia memutuskan untuk meminjam ke sebuah Bank dengan total bunga 100 %, artinya dia harus mengembalikan uang ke Bank tersebut sebesar Rp. 84 Juta.

Penderitan belum selesai sampai disitu, Usman dikontrak selama 3 tahun disini dengan gaji 16000 NTD (1 NTD == Rp 325). Selain itu, Usman harus membayar agen sebesar 2000 NTD setiap bulan dan membayar asuransi bulanan sebesar 1000 NTD setiap bulan. Usman hanya mengantongi uang sebesar 13000 NTD setiap bulan, ya Allah itu lebih kecl dari beasiswaku disini. Biaya hidup di Taipei sekitar 8000 NTD setiap bulan maka setiap bulan Usman menabung 5000 NTD.

Uang yang ditabung Usman adalah 5000 NTD per bulan, jika kita konversikan ke rupiah, maka tabungannya menjadi Rp. 1.625.000 / bulan. Usman bekerja disini selama 3 tahun (36 bulan), maka tabungan dia menjadi 1.625.000 x 36 = Rp. 58.500.000 , sedangkan hutang Usman ke Bank adalah Rp. 84 Juta.

Sungguh ironi nasib usman, berharap mengubah nasib selama 3 tahun bekerja di Tawan, alih-alih menambah hutang dan tidak memiliki apa-apa. Ini hanyalah segelintir kisah TKI yang kurang beruntung. Dan pesan terakhir beliau kepadaku adalah. “Mas, jadilah orang pinter biar gak dikadalin lintah darat. Diiming-imingi gaji besar namun kenyataan yang terjadi tidak sesuai dengan iming-iming manis yang telah dijanjikan”.

Bank Konvensional dan agen adalah para lintah darat yang menjadi beban penderitaan kaum tidak terdidik. Seharusnya para lintah darat tersebut memberikan keringanan dan memberikan perhatian lebih dalam mensejahterakan hidup kaum tidak terdidik.

Taipei, 10 Dzulhijjah 1433 H

Tulisan Lama yang baru sempat dipublish

4 thoughts on “Si Usman dan sang Lintah Darat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s