Surat terbuka untuk Marzuki Ali yang “KATANYA” udah bergelar “DOKTOR”

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Semoga Anda memahami arti ucapan salam saya ini. Saya tidak mewakili siapa-siapa kecuali diri saya sendiri, dan kalaupun suara saya ini sama dengan suara saudara-saudara saya lainnya yang di hati kecil mereka masih menyisakan cinta kepada bumi yang dititipkan ALLAH ini (sebuah negri bernama Indonesia), maka itu hanyalah suatu kebetulan yang tidak kami rekayasa.

Saya sangat terkejut membaca tulisan anda di sebuah media nasional pada tanggal 22 November 2012 yang berisi balasan kritik anda kepada PPI Jerman terkait kunjungan kerja para anggota lembaga tinggi Negara yang anda pimpin.

Anda Berkata: “Kalau DPR tidak boleh studi banding ke luar negeri, kenapa mereka tidak belajar di Indonesia saja? Di Indonesia juga banyak universitas bagus, ilmunya juga lengkap”. komentar anda telah menggelitik hati nurani saya dan ingin rasanya saya menuliskan surat terbuka untuk anda.

Ketahuilah wahai Pak Marzuki Alie

Ketika kami memberikan suatu kritikan kepada para pemimpin kami, bukan berarti kami membenci mereka, melainkan karena rasa hormat kami kepada mereka agar mereka bisa memperbaiki diri dan mendapat kehormatan di sisi Allah.

Ketahuilah wahai Pak marzuki Alie

Ketika kami berkoar-koar menentang Kunjungan kerja para anggota DPR ke Luar Negri, hal itu kami lakukan semata-mata kami ingin mengingatkan bahwa di ujung desa di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, masih banyak saudara-saudara kami yang sungguh sulit mencari sesuap nasi, sulit mencari setetes air bersih.

Ketahuilah wahai Pak marzuki Alie

Ketika kami senantiasa memberikan komentar pedas kepada para anggota anda, hal itu kami lakukan semata-mata karena kami tidak ingin kalian menjadi pemimpin yang Dzolim, pemimpin yang kejam merampas hak-hak rakyat demi kepuasan hawa nafsu mereka. Kami ingin kalian seperti Khalifah Umar bin Khattab yang lebih sering mengunjungi rakyatnya ketimbang plesiran di Negri Orang.

Ketahuilah Wahai pak marzuki Alie

Saya sangat terkejut ketika ada orang yang sudah bergelar Doktor membatasi seseorang untuk mencari Ilmu. Terlepas dari tingkat Keshahihan sebuah hadits, Rasulullah pun menganjurkan umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu, walau sampai ke negri cina.

Ketahuilah wahai Pak Marzuki Alie

Ketika kami tinggalkan tanah air Indonesia, sungguh kami melepaskan pelukan orang tua kami di hari terakhir kami di Indonesia dengan air mata haru dan kesedihan yang sangat mendalam, namun kami bertekad akan kembali ke Tanah Air Indonesia dengan air mata bahagia, Insya Allah.

Ketahuilah wahai Pak marzuki Alie

Kami disini bukanlah untuk bersenang-senang. Kami disini sedang mengais Ilmu di sebuah negri yang jauh dari keluarga, dan jauh orang-orang terdekat yang kami sayangi. Kondisi kami di tanah rantau pun sangat bertolak belakang dengan kemewahan anggota DPR, kami disini hidup dari beasiswa dan kami harus mengirit kebutuhan agar bisa memenuhi tuntutan perut untuk hari ini dan esok.

Ketahuilah Wahai pak Marzuki Alie

Sebagian besar kawan-kawan kami disini mendapat beasiswa yang biayanya bersumber dari pemerintah Negara tempat kam belajar, atau dari Universitas tempat kami belajar. Hanya sebagian diantara kami yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia.

Ketahuilah Wahai Pak Marzuki Alie

Belajar di Negri orang membuat kedewasaan berfikir kami menjadi tumbuh dan berkembang, kemampuan berbahasa kami semakin baik dan pikiran kami akan semakin terbuka. Semua itu kami lakukan agar kami memiliki bekal ketika suatu saat kami menjadi pengganti generasi anda dalam kepemimpinan negri ini.

Ketahuilah Wahai pak marzuki Alie

Dahulu kami memandang bahwa Suku kami adalah suku terbaik di Indonesia, namun setelah kami berada di Negri orang, rasa nasionalisme kami tumbuh dengan sendirinya dan kami selalu bersatu menjunjung tinggi Harkat dan Martabat Negara Kesatuan Republik Indonesia di Tanah Rantu yang kami pijak saat ini.

Saya bukanlah siapa-siapa dan Anda tentu lebih istimewa dari saya, tetapi ingatlah, kelak di Hari Pengadilan Raya, saya akan bersaksi untuk diri saya sendiri dan menjadi saksi pula atas kepemimpinan anda sebagai wakil kami di Parlemen. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga Anda memahami arti ucapan salam saya ini.

Taipei, 23 November 2012

Nur Muhammad Malikul Adil

Master Student of Mechanical Engineering Department NTUST

PPI Taiwan

25 thoughts on “Surat terbuka untuk Marzuki Ali yang “KATANYA” udah bergelar “DOKTOR”

  1. Sedih jika baca kisah Sahabat Salman Alfarisi yg kala itu menjadi pemimpin daerah, tapi masih menganyam daun kurma untuk makan keluarganya. Sebab seluruh gaji yg didapatkan sudah ia sedekahkan seluruhnya. Sedih bukan karena keuntungan menjual anyaman ternyata sepertiganya utk modal, sepertiganya utk keluarga dan sisanya ia sedekahkan lagi. Justru kesedihan itu ketika membayangkan para pemimpin di negeri ini. Kemana rasa malu mereka?

    • Abu Bakar As Shidiq pernah berjualan di sebuah pasar ketika beliau sedang memegang amanat sebagai seorang Khalifah… Sahabat Umar pun terheran-heran mengapa Abu Bakar berada di dalam Pasar, ternyata Usut punya Usut, beliau sedang mencari Nafkah untuk keluarganya. Subhanallah, seorang Khalifah tidak menuntut bayaran karena telah bekerja kepada rakyat. Sejak saat itu, mulailah pemimpin dibayar agar bisa fokus. Namun, Abu Bakar senantiasa rendah hati dan merakyat.

  2. saya setuju, tapi akan lebih baik kalo kita bisa memastikan tulisan ini bisa dibaca oleh beliau, saya khawatir jika tulisan ini tidak sampai kepada beliau hanya menjadi gunjingan di kalangan pembaca saja.

  3. Saya sangat senang dikritik, saya juga sangat senang mendengarkan apapun dari siapapun dalam hal apapun. Andaikata bahasa tulisan sulit dipahami secara lengkap, saya siap dihubungi secara langsung di HP saya 0811715402, kita berdiskusi banyak hal dan memahami pikiran kita masing masing secara tebuka. Saya sangat senang melihat mahasiswa yang mau belajar keras, ingin maju, saya paling tidak suka mahasiswa yang suka merengek serba susah. Oleh karenanya saya mendirikan lembaga pendidikan mulai SD, SMP, SMA dan Universitas, termasuk pesantren Tsanawiyah dan Aliyah khusus bagi orang miskin dan yatim /Piatu. Kenapa saya kritik PPI Jeman, karena saya dilaporkan waktu kunjungan terakhir anggota DPR beberapa bulan lalu, mereka diterima dengan baik, lalu mereka diberikan kesempatan menyampaikan pernyataan. Manakala diajak berdiskusi, mereka pergi tdk mau diajak komunikasi. Pada saat kunjungan kali ini, anggota dpr belum berangkat, mereka sudah membuat statemen menolak kunjungan anggota DPR. Beginikah karakter intelektual mahasiswa Indonesia (PPI) yang bersekolah di Luar Negeri. Saya mendukung ada anak bangsa yang peduli utk mengawasi kami dalam melaksanakan tugas. Tapi manakala caranya seperti itu, hilang kebanggaan saya thd mereka, pdhal mereka calon Pemimpin Bangsa. Mereka berpendapat, untuk mendapatkan informasi dalam pembuatan UU, anggota DPR cukup melalui Internet, tdk perlu melakukan studi komparasi. Padahal UU itu merupakan kebijakan publik yg akan mempengaruhi kehidupanan berbangsa dan bernegara serta berlaku jangka panjang. Andaikata UU itu merugikan, tidak mudah untuk membatalkannya. Petanyaannya kenapa mereka bepikir demikian, mereka sendiri juga belajar ke LN, padahal sekolah di DN juga bagus dan sudah terbukti mampu membentuk banyak Pemimpin Bangsa.. UU gagal dampaknya luas, mereka gagal dampaknya hanya kpd mereka sendiri. Saya tidak melarang mereka sekolah ke LN, saya sangat mendukung, agar mereka punya wawasan yang luas. Namun kalau sekolah ke LN hasilnya hanya bisa melecehkan Pemimpin2 mereka, sekolah di LN justru tidak membawa kebaikan. Yang paling tidak terpuji adalah dengan cara mengambil photo dan film secara diam2, kemudian diupload ke Youtube, sehingga mereka sangat dipermalukan. Yang menjadi pertanyaan, apakah salah mereka ke Plaza, tempat wisata, manakala tugas mereka sudah selesai. Misalnya dari pagi mereka bekerja sd pk 16 selesai, kemudian mereka ke pasar atau mengunjungi tempat2 bersejarah. Apakah tidur2an di hotel lebih baik daripada mereka jalan2 utk menambah wawasan. Kalau mereka tidak memanfaatkan waktu mereka dg baik, saya katakan bahwa mereka goblok. Saya pastikan bahwa pimpinan DPR akan bekerja dg baik, termasuk mengawasi anaggota DPR kunker ke LN. Saat ini kunker ke LN hanya diperkenankan utk penyelesaian RUU, sedangkan fungsi pengawasan dan Budget tidak kita izinkan ke LN. Demikian tks MA

    • Yth. Bapak Ketua DPR RI.
      Anda mungkin tidak mengetahui seberapa besar efektivitas hal tersebut bisa terlaksana… Untuk mendapatkan hal yang sangat mudah, lebih baik effort yang digunakan jangan terlalu besar, dan dana yang digunakan sebaiknya dialokasikan untuk hal yang lebih bermanfaat.

      Salam

      • Aslm wr wb.
        Yth. Bapak Marzuki Alie

        Secara konsep, memang Study Banding ke Luar Negeri memang dibutuhkan, dan tidak cukup hanya study melalui internet. Karena membutuhkan diskusi langsung dengan pihak terkait yang mungkin kurang efektif jika hanya melalui telpon/email/media lainnya.

        Problemnya adalah, pelaksanaan study banding yang menggunakan uang rakyat haruslah efektif, dan benar-benar dibutuhkan. Jika masih ada alternatif lain yang lebih hemat biaya dan sama efektifnya mengapa harus memaksakan study banding yang menggunakan biaya besar?

        Disini yang dikritisi bukanlah Study Bandingnya, tapi efektivitas dan urgensi dari study banding itu sendiri. Apakah efektif uang yang digunakan untuk study bandingnya, dan apakah kebutuhan study banding begitu mendesak? Saya pikir jika setelah study banding dapat dirampungkan UU yang benar-benar berguna, maka tidak akan ada masalah.

        Jika dilihat dari kasus PPi jerman dimana Univnya sendiri sudah menyatakan kalau DPR salah tujuan, maka hal ini jelas menimbulkan tanda tanya. Jika pihak tujuan saja sudah menyatakan salah tujuan, bagaimana kunjungannya akan efektif? Hal yang serupa juga dapat terlihat ketika kunjungan mengenai Logo Palang Merah. Saya kira masih banyak sekali problema yang harusnya diprioritaskan dibandingkan Logo Palang Merah.

        Terima Kasih
        Waslm, wr wb

  4. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

    Semoga Anda memahami arti ucapan salam saya ini. Saya tidak mewakili siapa-siapa

    kecuali diri saya sendiri, dan kalaupun suara saya ini sama dengan suara

    saudara-saudara saya lainnya yang di hati kecil mereka masih menyisakan cinta

    kepada bumi yang dititipkan ALLAH ini (sebuah negri bernama Indonesia), maka itu

    hanyalah suatu kebetulan yang tidak kami rekayasa.

    Saya sangat terkejut membaca tulisan anda di blog Anda

    (https://insinyurpenulis.wordpress.com/2012/11/24/surat-terbuka-untuk-marzuki-

    ali-yang-katanya-udah-bergelar-doktor/) pada tanggal 24 November 2012 yang

    berisi balasan kritik anda kepada tulisan Pak Marzuki Alie di sebuah media

    nasional pada tanggal 22 November 2012 terkait kunjungan kerja para anggota

    lembaga tinggi Negara yang Pak Marzuki Alie pimpin.

    Anda berkata: “Belajar di Negri orang membuat kedewasaan berfikir kami menjadi

    tumbuh dan berkembang, kemampuan berbahasa kami semakin baik dan pikiran kami

    akan semakin terbuka. Semua itu kami lakukan agar kami memiliki bekal ketika

    suatu saat kami menjadi pengganti generasi anda dalam kepemimpinan negri ini.”

    Komentar Anda telah menggelitik hati nurani saya dan ingin rasanya saya

    menuliskan surat terbuka untuk Anda.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Ketika kami memberikan suatu kritikan kepada

    para pemimpin kami, bukan berarti kami membenci mereka, melainkan karena rasa

    hormat kami kepada mereka agar mereka bisa memperbaiki diri dan mendapat

    kehormatan di sisi Allah.”

    Begitu pula ketika Pak Marzuki Alie memberikan suatu pernyataan balasan kepada

    PPI Jerman, bukan berarti beliau membenci mereka, melainkan karena rasa hormat

    beliau kepada mereka agar mereka bisa memperbaiki diri dan mendapat kehormatan

    di sisi Allah.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Ketika kami berkoar-koar menentang Kunjungan

    kerja para anggota DPR ke Luar Negri, hal itu kami lakukan semata-mata kami

    ingin mengingatkan bahwa di ujung desa di Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, masih

    banyak saudara-saudara kami yang sungguh sulit mencari sesuap nasi, sulit

    mencari setetes air bersih.”

    Saya juga ingin ingatkan Anda kalau sementara Anda belajar enak-enak di luar

    negri, di negara maju seperti Jerman, dengan uang beasiswa pula, masih banyak

    saudara-saudara Anda di Indonesia yang sungguh sulit mencari sesuap nasi, sulit

    mencari setetes air bersih.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Ketika kami senantiasa memberikan komentar

    pedas kepada para anggota anda, hal itu kami lakukan semata-mata karena kami

    tidak ingin kalian menjadi pemimpin yang Dzolim, pemimpin yang kejam merampas

    hak-hak rakyat demi kepuasan hawa nafsu mereka. Kami ingin kalian seperti

    Khalifah Umar bin Khattab yang lebih sering mengunjungi rakyatnya ketimbang

    plesiran di Negri Orang.”

    Begitu pula ketika Pak Marzuki Alie membalas komentar pedas Anda, hal itu Pak

    Marzuki Alie lakukan semata-mata karena Pak Marzuki Alie tidak ingin kalian

    menjadi calon pemimpin yang Dzolim, calon pemimpin yang inginnya selalu

    menjatuhkan pemimpin yang sudah ada sekarang demi kepuasan hawa nafsu sendiri

    atau sekedar ingin merasa hebat. Pak Marzuki Alie ingin kalian menjadi rakyat

    Indonesia yang baik, yang mendukung pemimpinnya, bukan yang bisanya hanya

    menjelek-jelekkan saja.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Saya sangat terkejut ketika ada orang yang

    sudah bergelar Doktor membatasi seseorang untuk mencari Ilmu. Terlepas dari

    tingkat Keshahihan sebuah hadits, Rasulullah pun menganjurkan umatnya untuk

    senantiasa menuntut ilmu, walau sampai ke negri cina.”

    Saya juga sangat terkejut ketika ada mahasiswa Indonesia yang sedang kuliah di

    negara maju seperti Jerman, membatasi seseorang untuk mencari Ilmu. Terlepas

    dari usia maupun jabatan yang dimiliki sekarang. Seharusnya Anda sebagai

    mahasiswa terbaik dari Indonesia tidak berpikir seperti itu. Atau mungkin

    pemberi beasiswa salah memilih mahasiswa penerima beasiswa ke Jerman ini.

    Rasulullah pun menganjurkan umatnya untuk senantiasa menuntut ilmu, walau sampai

    ke negri cina.

    Ketahuilah wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Ketika kami tinggalkan tanah air Indonesia,

    sungguh kami melepaskan pelukan orang tua kami di hari terakhir kami di

    Indonesia dengan air mata haru dan kesedihan yang sangat mendalam, namun kami

    bertekad akan kembali ke Tanah Air Indonesia dengan air mata bahagia, Insya

    Allah.”

    Begitu pula ketika Pak Marzuki Alie tinggalkan tanah air Indonesia, sungguh Pak

    Marzuki Alie dengan berat hati terpaksa mengluarkan dana yang telah diamanahkan

    rakyat Indonesia kepada beliau dengan air mata haru dan kesedihan yang sangat

    mendalam, namun Pak Marzuki Alie bertekad akan kembali ke Tanah Air Indonesia

    dengan air mata bahagia, Insya Allah.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Kami disini bukanlah untuk bersenang-senang.

    Kami disini sedang mengais Ilmu di sebuah negri yang jauh dari keluarga, dan

    jauh orang-orang terdekat yang kami sayangi. Kondisi kami di tanah rantau pun

    sangat bertolak belakang dengan kemewahan anggota DPR, kami disini hidup dari

    beasiswa dan kami harus mengirit kebutuhan agar bisa memenuhi tuntutan perut

    untuk hari ini dan esok.”

    Begitu pula Pak Marzuki Alie di Jerman bukanlah untuk bersenang-senang. Pak

    Marzuki Alie di Jerman mengais Ilmu di sebuah negri yang jauh dari keluarga,

    jauh orang-orang terdekat yang beliau sayangi, dan jauh dari rakyat Indonesia.

    Saya mengerti kondisi kamu di tanah rantau pun sangat berbeda dengan kondisi

    anggota DPR, karena kamu memang belum bekerja dan masih kuliah.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Sebagian besar kawan-kawan kami disini

    mendapat beasiswa yang biayanya bersumber dari pemerintah Negara tempat kam

    belajar, atau dari Universitas tempat kami belajar. Hanya sebagian diantara kami

    yang dibiayai oleh pemerintah Indonesia.”

    Walaupun Sebagian besar kawan-kawan kamu disana mendapat beasiswa yang biayanya

    bersumber dari pemerintah negara tempat kamu belajar, atau dari Universitas

    tempat kamu belajar, dan hanya sebagian diantara kami yang dibiayai oleh

    pemerintah Indonesia, kamu tetap harus menghargai pemberi beasiswamu. Belajarlah

    dengan sungguh-sungguh dan jangan membuat rakyat Indonesia malu dengan memberi

    ejekan-ejekan tidak berkualitas terhadap pemimpin-pemimpinmu.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Nur Muhammad Malikul Adil berkata, “Belajar di Negri orang membuat kedewasaan

    berfikir kami menjadi tumbuh dan berkembang, kemampuan berbahasa kami semakin

    baik dan pikiran kami akan semakin terbuka. Semua itu kami lakukan agar kami

    memiliki bekal ketika suatu saat kami menjadi pengganti generasi anda dalam

    kepemimpinan negri ini.”

    Betul, belajar di Negri orang membuat kedewasaan berfikir menjadi tumbuh dan

    berkembang. Inilah alasan utama kenapa Pak Marzuki Alie melakukan kunjungan ke

    Jerman. Anda sendiri sudah tahu alasan itu kenapa masih bertanya-tanya lagi?

    Begitu pula kemampuan membuat keputusan Pak Marzuki Alie semakin baik dan

    pikiran akan semakin terbuka. Semua itu Pak Marzuki Alie lakukan demi rakyat

    Indonesia yang sedang beliau pimpin.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Pak Marzuki Alie memang merupakan salah satu pemimpin rakyat Indonesia, tetapi

    Anda tentu lebih istimewa dari saya karena Anda sedang menuntut ilmu di negara

    maju dan mempunyai masa depan yang penuh peluang. Tetapi ingatlah, kelak di Hari

    Pengadilan Raya, saya akan bersaksi untuk diri saya sendiri dan menjadi saksi

    pula atas hasil belajar Anda di negeri orang sebagai wakil mahasiswa dari

    Indonesia.

    Ketahuilah Wahai Nur Muhammad Malikul Adil

    Tulisan Anda terkait kunjungan kerja para anggota lembaga tinggi Negara yang Pak

    Marzuki Alie pimpin tidaklah valid dan membuat malu rakyat Indonesia.

    Mahasiwa terbaik, mahasiswa pilihan dari banyaknya pelamar beasiswa ke Jerman

    ternyata menulis hal-hal yang memalukan dan walaupun sudah dibalas dan

    diberitahu kalau Anda salah, Anda tetap tidak mau mengaku salah. Anda tetap

    kukuh dan ngotot merasa diri Anda paling hebat.

    Kalau Anda sendiri tidak mau mengaku salah, apakah Pak Marzuki Alie yang

    melakukan hal-hal yang baik demi rakyat Indonesia yang harus mengaku salah?

    Apakah Pak Marzuki Alie di jam istirahat tidak boleh belanja atau jalan-jalan di

    Jerman? Itu semua Pak Marzuki Alie lakukan untuk tujuan refreshing, supaya Pak

    Marzuki Alie dapat kembali berkonsentasi memikirkan tugas negara.

    Saya tanya Anda, Nur Muhammad Malikul Adil, hari libur/Sabtu/Minggu Anda

    ngapain? Belajar terus dikamar dan tidak kemana-mana? Atau Anda sama juga

    jalan-jalan seperti Pak Marzuki Alie?

    Kalau Anda hari libur/Sabtu/Minggu kamu belajar terus dikamar dan tidak kemana-

    mana saya sangat sedih dan malu. Karena tidak seharusnya mahasiswa Indonesia

    pilihan bertindak konyol seperti itu. Jika ada kesempatan di hari

    libur/Sabtu/Minggu untuk refreshing harus dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya

    agar dihari Senin-Jumat dapat kembali berkonsentasi belajar dengan baik.

    Saya minta Anda sekarang juga kirimkan surat permohonan maaf ke Pak Marzuki Alie

    atas tulisan ngawur Anda ini.

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh, semoga Anda memahami arti ucapan

    salam saya ini.

  5. Wahai Ahmad Zulfikar,

    Anda sendiri juga anonim. Apa saya bisa yakin Ahmad Zulfikar adalah nama asli Anda? Alamat Anda, no. telepon Anda, keluarga Anda, latar belakang Anda, SD-SMP,SMA Anda juga saya tidak tahu.

    Saya disini hanya mau menyampaikan ide, bukan tawuran. Jadi untuk apa Anda tahu tentang saya? Kalau mau tawuran, Anda silahkan beritahu alamat dan nomor telepon Anda terlebih dahulu.

      • Setuju, saya memang paling tidak suka tawuran. Karena itu saya berstatus anonim supaya tidak memancing tawuran terjadi. Jika saya berikan data diri saya disini saya ragu akan ada ada mahasiswa (biasanya mahasiswa yang belum pernah ke luar negri) mendatangi saya dan mengajak tawuran.

        Saya hanya menulis sebuah klarifikasi terhadap pernyataan Nur Muhammad Malikul Adil di blog https://insinyurpenulis.wordpress.com/2012/11/24/surat-terbuka-untuk-marzuki-ali-yang-katanya-udah-bergelar-doktor/#comment-74 beberapa hari Lalu. Sbeuah klarifikasi yang merupakan pendapat saya, sehingga di awal surat balasan saya ini saya tuliskan bahwa saya tidak mewakili siapa-siapa kecuali diri saya sendiri.

        Kalau anda tidak setuju dengan tuisan saya, bisa langsung balas dengan tulisan bermutu anda disini.

        Nur Muhammad Malikul Adil sendiri sudah tidak bisa membalas apa-apa lagi tulisan saya disini, artinya ada kebenaran dibalik tulisan saya yang tidak bisa dibantah. Jika anda bisa membantah tulisan saya silahkan bantah, saya sangat senang bertukar pikiran.

    • Mas/mbak Mahasiswa Indonesia, kalau Anda memang cerdas, secerdas klaim Anda, Anda pasti tahu kalau alamat, nomor telepon, keluarga adalah data-data privasi dan bisa disalahgunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Setidaknya, Anda bisa tidak anonim dengan menyebutkan nama Anda, link blog Anda, atau link ke situs sosial media yang Anda miliki. Dengan demikian kita bisa berdiskusi dengan lebih nyaman bukan?

  6. Kami tahu ada banyak perguruan tinggi dalam negeri yg bagus dan lebih bermutu dari pada perguruan tinggi di Indonesia. Namun,beasiswa yg kami dapatkan di dalam negeri tak sebanyak dan semudah yg kami terima dari luar negeri. Artinya apa? Dengan sisa beasiswa,kami bisa mengirimkan sisa uang kami ke Indonesia utk membantu orang tua menyekolahkan adik2 kami,membangun bangsa kami. Bukankah ini artinya kami turut menambah devisa negara (meski uang sisa kami tak sebanyak gaji para wakil rakyat )? Dan kami tak menghabiskan devisa negara kan Pak? Coba bapak bayangkan, apa yg terjadi jika tak ada mahasiswa Indonesia yg keluar negeri utk sekolah. Kami ini tak hanya sebagai duta pelajar, tp kami juga duta pariwisata. Sebelum kami memutuskan untuk memilih perguruan tinggi dan advisor, kami benar2 mempertimbangkan latar belakang dan bidang riset sehingga kami tidak salah sasaran. Untuk masalah ini saya rasa Pak Marzuki dan anggota yg lain sdh sangat paham lawong Anda ini juga kaum terpelajar (meski pada akhirnya kedatangan para anggota dewan di Jerman dianggap salah sasaran oleh si tuan rumah yg dituju). Saya tahu Anda punya yayasan besar di Palembang dan saya yakin Anda akan Kecewa jika para dosen yg Anda utus utk tugas belajar ternyata salah memilih sekolah. Itulah yg terjadi pada kami. Kami kecewa pak. Sebelum kami memutuskan pergi ke luar negeri, kami melengkapi kemampuan kami berbahasa Inggris, ada standard nilai yang harus kami capai. Kalau anggota dewan yg bapak kirim apakah juga ada tes semacam itu? Saya pernah bekerja di kedutaan luar negeri dan saya paham betul apa yg harus kami lakukan jika ada tamu dari jakarta. Merepotkan, menguras tenaga, dan anggaran yang seharusnya bs digunakan utk pelayanan rakyat, dialihkan utk melayani wakil rakyat yang takpernah mewakili aspirasi rakyat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s