Potensi Bisnis Lele

Hari ini, lantai 5 sebuah gedung tinggi di sebelah TMS (Taipei Main Station) penuh sesak dijejali oleh warga Indonesia, tak luput aku pun memenuhi ruangan tersebut untuk mengikuti sebuah seminar kewirausahaan yang diselenggarakan oleh IPIT (Ikatan Pekerja Indonesia di Taiwan) yang bekerja sama dengan Majalah INTAI (Indonesia Taiwan). Seminar kali ini berisi tentang pembudidayaan ikan lele, seminar kali ini diisi oleh seorang juragan lele yang juga mahasiswa PhD di National Taiwan ocean University (NTOU).

CIMG6846

Bisnis lele merupakan bisnis termudah yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Bahkan, pernah ada suatu kisah seorang ibu rumah tangga yang mencoba bisnis baru hmencoba peruntungan di bisnis lele, dan ternyata dia berhasil. Modal yang digunakan dalam bisnis ini pun tidak banyak, hanya membutuhkan kayu yang ditutupi oleh terpal dan diisi air yang kemudian bisa digunakan sebagai pengganti kolam lele.

Bisnis lele terdiri dari 4 segmen, yang pertama adalah pembenihan, kemudian pertumbuhan, lalu distribusi dan pengolahan.

1.      Pembenihan

Pada segmen bisnis ini, pengusaha lele hanya dituntut untuk menghasilkan benih lele yang banyak tanpa punya kewajiban untuk mengembangbiakkan lele. Untuk menghasilkan benih-benih lele, diperlukan suatu tempat yang mengakomodir lele jantan dan lele betina dengan ratio jantan : betina = 2:1 , missalkan ingin meletakkan 4 lele betina, maka harus ada 8 lele jantan disana. Dan jika ingn menghasilkan banyak benih, maka yang harus dilakukan adalah meningkatkan jumlah lele dalam jumlah banyak dan menampungnya dalam suatu tempat. Ciri-ciri lele disebut lele jantan ketika ada tanda-tanda menonjol di bagian depannya, dan lele dikatakan jenis wanita ketika tidak ada yang menonjol di bagian depan, hanya tampak seperti garis.

2.      Pembesaran

Segmen kedua adalah ketika pengusaha ingin membesarkan lele. Pengusaha lele di segmen pembesaran membeli benih lele dari pengusaha lele di bidang benih. Proses ini dilakukan hingga lele lele mencapai umur sekitar 3-4 bulan.

3.      Distribusi

Segmen ketiga adalah untuk mendistribusikan lele yang sudah besar ke pedagang. Kelihatannya simple, namun pengusaha di segmen in pun bisa memiliki keuntungan yang berlimpah karena peminat ikan semakin banyak seiring dengan melambungnya harga daging.

4.      Pengolahan

Pengusaha lele di segmen ini sudah berurusan langsung dengan konsumen. Mereka mengolah lele-lele tersebut menjadi makanan siap saji, entah menjadi pedagang pecel lele ataupun menjadi pengusaha café yang menjual berbagai jenis makanan yang salah satu komoditasnya adalah Lele.

               Di daerah boyolali terdapat kampung yang disebut kampung lele. Warga kampung lele sudah terintegrsi menjadi pengusaha lele. Pembagian usah allele sudah tersegmen-segmen, missal RT 1 menjadi pengusaha benih, RT 2 menjadi pengusaha pembesaran, RT 3 menjadi pengusaha distribusi,d an RT 4 menjadi pengusaha bidang pengolahan.

                Salah satu tujuan adanya pelatihan pengusaha lele ini adalah untuk meminimalisir kembalinya BMI untuk bekerja di luar negri. Para BMI yang pernah bekerja di luar negri sudah menghabiskan bertahun-tahun bekerja di perusahaan di luar negri namun belum bisa mandiri secara financial untuk bertahan hidup sekembalinya dari tanah rantau. Semoga bisnis lele ini menjadi alternative solusi yang bisa mereka jadikan pegangan dalam berwirausaha.

CIMG6854

Taipei, 2 Desember 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s