Sepeda dan Su’uzon

Aku ingin menceritakan sebuah kisah tentang sebuah sepeda dan su’udzon. Pada suatu jumat, saya ingin menunaikan solat Jumat dengan menggunakan sepeda. Aku pun mengambil sepeda dan ternyata sepedaku dikunci, kucoba untuk membuka kunci dengan memutar kodenya.

Ternyata kode yang kuputar salah. Akhirnya, pikiranku pun menuju peristiwa-peristiwa yang dialami si sepeda ini. Sepedaku memang sudah tidak bisa dikunci lagi sejak dipakai temanku (sebut saja si “A”). Sejak sepedaku dipinjam si A, aku pun tak pernah menguncinya lagi karena gemboknya rusak sehingga aku hanya menempelkan kuncinya saja di roda belakang sampai seolah-olah tampak terkunci.

Di hari jumat itu, aku bersu’udzon kepada temanku yang sering meminjam sepedaku (sebut saja si”B”). Si B ini sering meminjam sepedaku untuk keperluan dirinya, bagiku itu bukanlah suatu masalah karena dia meminjam sepedaku ketika aku sedang tidak memakainya. Aku pun marah kepadanya dalam hati bahwa kenapa dia merubah kodenya hingga kuncinya bisa tertutup kembali.

Akhirnya aku pun naik bis dengan perasaan kesal. Ketika di bis, aku bertemu dengan si “B” dan dia pun menceritakan bahwa dia sendiri juga tidak mengerti kenapa kodenya berubah. Dia pun memberitahuku kode yang baru. Akhirnya aku pun sadar bahwa si B justru membantuku menyelesaikan permasalahan kunci gembok sepeda sejak dipinjam si A. Kunci gembokku bisa dipakai lagi dengan kode yang baru, Alhamdulillah. Ya Allah maafkanlah hamba yang telah su’udzon kepada saudara hamba. Astaghfrullah, maafkan aku saudaraku yang telah bersu’udzon kepadamu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s