Mengapa Imam Malik Tidak Meletakkan tangannya di Perut Ketika Solat?

Pagi itu, seusai menunaikan solat subuh jamaah di masjid besar, aku mendengarkan siraman rohani dari Imam Musa. Beliau bercerita tentang 4 Imam besar, mereka adalah Imam Syafi’I, Imam Hanafi, Imam Maliki, dan Imam Hambali. Awalnya, beliau menasihati kepada para jamaah untuk tidak saling menyalahkan perbedaan pendapat dan harus bijak dan toleran terhadap perbedaan 4 madzhab tersebut.

Imam Musa bercerita bahwa salah satu perbedaan yang mencolok adalah perbedaan ketika takbiratul Ikhram. Pengikut Imam Malik setelah takbiratul Ikhram tidak meletakkan tangannya di perut, namun diletakkan saja di samping seperti biasa. Mengapa Imam Malik mengajarkan demikian? Apa sejarahnya?

Alkisah, ketika zaman Imam Malik menjadi Ulama, Raja yang memerintah saat itu memberikan titah kepada Imam Malik untuk berkata bahwa Qur’an itu “sesuatu”. Namun, Imam Malik bersikeras tidak mau mengatakan itu karena hal itu tidak sesuai dengan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Akhirnya, sang Raja menghukum Imam Malik, disiksanya lah Imam Malik hingga tangan beliau sakit. Seusai itu, beliau tidak bisa meletakkan tangannya di perut selepas takbiratul Ikhram. Berawal dari situ, banyak orang yang mengikuti Imam Malik dan jadilah Madzhab Imam Malik tidak meletakkan tangannya di perut selepas takbiratul Ikhram.

Wallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s