Budaya Kerja orang Melayu, Cina, dan Barat

Malam ini, tulisan ini menginspirasi jariku untuk menekan keyboard karena karena sejak 2 bulan terakhir aku ditekan terus oleh Pembimbing Tesis untuk kerja 7 hari Non-Stop dari pagi sampai tengah malam dengan jam meeting yang tidak tentu kalau aku mau lulus 2 tahun (Pokoknya Stand By HP untuk di telpon). Karena tekanan beasiswa yang cuma 2 tahun, aku pun melakukan apa yang diinginkan si doi agar bisa lulus 2 tahun. Jadi ane datang pagi untuk ngabsen dan pulang tengah malam untuk absen balik. Ane pun mereview fasa kehidupan ane selama ini (Macam facebook aja ada video review).

Lahir dan tumbuh di lingkungan Santri di daerah Melayu (baca : Indonesia) membuatku terbiasa santai dalam bekerja, tidak memiliki tekanan berat (kecuali tekanan untuk mentadaburi kitab Kuning dan menghafalkan kitab Jurmiyah tentang Ilmu Nakhwu dan Shorof, T_T). Budaya orang melayu sangat kental dalam hidupku. Kerja santai dan telat adalah hal biasa bagi orang Melayu (mungkin melayu Indonesia doank kayaknya), entah Ras melayu malaysia seperti apa, secara ane kagak pernah tinggal di Malaysia jadi kagak bisa banyak komentar.

Dalam Postingan ini ane ingin mencoba menganalisis Budaya Kerja orang Melayu, Cina, dan Barat berdasarkan pengalaman aye (mungkin tidak representative menggambarkan keseluruhan budaya kerja orang Melayu, CIna, dan Barat karena cuma berdasar pengalaman tidak melakukan Survey lapangan atau Quesioner).

Orang melayu terbiasa dengan kerja santai, tanpa tekanan yang tinggi, pengen enaknya aja, kalau belajar inginnya diajarin (walaupun udah mahasiswa s2 atau s3 tetap memilih diajarin daripada belajar sendiri, termasuk aye). Hidupnya santai, Happy, dan hobinya komentar tentang Politik dan negrinya. Kalau ditekan sedikit mudah mengeluh, disuruh kerja lembur banyak bolosnya. Intinya santai deh kerjanya. Selalu merasa lebih hebat dari orang-orang Cina, dan malas untuk mengupgrade diri, dan merasa lidahnya paling fasih untuk bicara banyak bahasa (padahal gak gitu juga). [No Racism]

Sedangkan orang Cina, pekerja ulet, pekerja tangguh, dan pejuang sejati. Teman-teman Lab ane itu kerjanya gila-gilaan Gan, sumpah deh. Padahal mereka gak digaji, mereka kerja agar pinter. Jam kerjanyaaa itu, Gileeee. Mereka bersiap untuk tidak libur demi bekerja (intinya Workchaolik deh).

Sekarang aye akan ceritakan orang Barat (khususnya Amerika). Aye berpendapat ini karena aye pernah kuliah di University of Kansas di USA. Sepengamatan aye, orang-orang Barat ini adalah pertengahan antara orang Melayu dan orang CIna. Kerjanya gak semalas orang melayu dan gak se workchaolik orang CIna. Mereka Sabtu dan Minggu hampir pasti Libur (kecuali ada hal tertentu yang harus dikerjakan). Kalau orang Cina hampir pasti bekerja (kecuali aa hal tertentu yang membuat Libur).  Orang Barat ini kerjanya efektif gan. Misal punya jam kerja 8 jam. Itu 8 jam bener-bener untuk kerja, selepas itu mereka kadang Mabok, Judi, main perempuan, dll. Tapi selama jam kerja mereka fokus kerja.

Jadi perbedaannya adalah :

1. Orang Melayu, jam kerja pun dipakai FB an, Twitteran, baca koran, dll. Jad kerjanya gak efektif

2. Orang CIna, jam libur pun dipakai kerja, jadi jam kerjanya Gilaaa

3. Orang Barat : Jam kerja yah kerja, jam libur yah libur.

Sekian saja pengamatan aye. Mohon maaf gan, sumpahkagak ada maksud Rasis.. Cuma curhatan diri seorang Ras melayu yang mendapat tekanan jam kerja orang Cina. Sekali lagi ini hanya pengamatan, setiap orang punya pengalaman yang berbeda.

Melayu vs Barat vs Cina

Melayu vs Barat vs Cina

6 thoughts on “Budaya Kerja orang Melayu, Cina, dan Barat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s