Kisah tentang “Batur”

Kisah ini terjadi ketika aku baru masuk kuliah di ITB, tepatnya di bulan Agustus 2007. Kejadian itu bermula saat Aku (mahasiswa perantauan asal Cirebon) berkenalan dengan seorang teman yang bernama fauzan ahmadi (mahasiswa perantauan asal Solo Sukoharjo).

Cirebon merupakan kota paling timur di Provinsi Jawa Barat sekaligus perbatasan provinsi Jawa tengah dan Jawa Barat. Bahasa Cirebon itu sangat unik, mengadopsi 50% Bahasa Jawa, dan 50% Bahasa Sunda sehingga muncullah Bahasa baru yang disebut Bahasa Cirebon. Sampai-sampai ketika SD dan SMP saya memiliki 2 muatan local (Mulok), yaitu Bahasa Sunda (Perda Provinsi) dan Bahasa Cirebon (Perda Kabupaten), yang mana saya pernah mendapat nilai 3 dari skala 10, namun di rapot mendapat nilai 9 (entah dari mana nilai itu datang).

Seusai berkenalan, aku berbincang-bincang sebentar dan aku akhiri dengan kata-kata. “mulai sekarang, kamu baturku”.

Dalam kosa kata Bahasa Cirebon, batur adalah teman (mengadopsi Bahasa sunda), sedangkan dalam kosa kata Bahasa Jawa Solo, batur adalah pembantu.

Fauzan berkata dalam hatinya “Niy anak kurang ajar banget, baru kenalan udah anggap saya pembantunya”. Hal ini diceritakan fauzan ke saya ketika semester akhir kami kuliah. Pada kesempatan itu, beliau bercerita kalau dia sakit hati karena langsung dianggap pembantu, dan dia baru tau kalau “batur” dalam Bahasa cIrebon adalah teman.

Hahaha, Bahasa kadang membuat orang salah persepsi.

One thought on “Kisah tentang “Batur”

  1. Pingback: Tentang Sabrang | Nur Muhammad Malikul Adil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s