Kiyai yang menggendong Anjing

Alkisah, ketika zaman Penjajahan Belanda, terdapat sebuah pesantren yang sangat menolak kedatangan para penjajah. Sang Kiyai di Pesantren tersebut memiliki pengaruh besar. Apa yang beliau perintahkan selalu diikuti oleh santri dan masyarakat.

Belanda pun kebingungan dan mencari cara bagaimana agar sang Kiyai ini menuruti keinginan Belanda karena jika Kiyai ini bisa ditaklukkan, maka perlawanan Rakyat Indonesia kepada Penjajah dapat dihentikan.

Akhirnya, Belanda memutuskan untuk berunding dengan sang Kiyai Belanda membawa Anjing dengan tujuan agar konsentrasi sang Kiyai terpecah dan disitulah Belanda bisa mengontrol situasi.

Namun, apa yang terjadi?

Di luar dugaan para penjajah, sang kiyai menggendong anjing tersebut dan meletakkannya di atas tempat yang sangat istimewa. Anjing tersebut begitu dihormati oleh sang Kiyai. Para santri pun bingung terhadap tingkah sang Kiyai. Singkat cerita, perundingan pun selesai dan Belanda tidak berhasil mendapatkan apa yang diinginkan.

Santri pun bertanya kepada Sang Kiyai mengapa Kiyai melakukan hal ini? Sang Kiyai menjawab.

Ini kan hanya Najis Mugholadhoh yang bisa disucikan. Dan tujuan Belanda adalah ingin mengacaukan suasana dengan membawa anjing. Jadi kita harus memilih satu hal yang mudhorotnya paling sedikit

Hikmah yang bisa diambil dari pembelajaran itu adalah ketika kita berada dalam sebuah pilihan, maka kita harus memilih suatu pilihan yang memiliki Mudhorot paling sedikit. Eiiits, bukan berarti pilihan untuk berbuat maksiat Loh yaa.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s