Kisah si Ogi dan si Alja

hari ini banyak sekali teman-temanku update status tentang Idul Adha atau mengupload foto penyembelihan hewan qurban. Hal yang normal di era sosial media sekarang (termasuk menulis blog ini, hehe). Bahkan ada beberapa teman yang menuliskan Minal Aidzin Wal Faidzin.

Tulisan Midal Aidzin Wal Faidzin mengingatkanku kepada salah seorang teman, sebut saja namanya si Ogi. Ogi pernah bekerja di suatu warung makanan milik seseorang yang bernama Alja. Suatu ketika, sehari setelah Idul Fitri, Ogi menyempatkan diri untuk menemui Alja di Warungnya dan berkata “Minal Aidzin Wal Faidzin“. Aku yang berada disitu melihat ekspresi si Alja kebingungan. Si Alja hanya menyapa dan mengobrol sebentar dengan si Ogi.

Saat itu, si Ogi bermaksud meminta maaf lahir batin dengan menggunakan sebuah metode yang sangat tenar di Indonesia, yaitu mengucapkan kalimat sakti “Minal Aidzin Wal Faidzin“. Si Ogi tidak menyadari bahwa kata-kata “Minal Aidzin Wal Faidzin” adalah budaya Indonesia, bukanlah budaya Islam. Budaya Islam itu adalah memaafkan satu sama lain, tidak mesti harus mengucapkan “Minal Aidzin Wal Faidzin” dan tidak mesti menunggu datangnya Idul Fitri. Si Ogi tidak menyadari bahwa di negaranya si Alja, mereka tidak mengenal kata-kata “Minal Aidzin Wal Faidzin“.

Jadi, kalau Idul Fitri dan ingin mengucapkan kata-kata dengan muslim di negara lain, ucapkanlah “Taqoballahu Minna Wa Minkum, Shiyamana wa shiyamakum”. Bukan “Minal Aidzin Wal Faidzin“.

Semoga kita bisa mengambil hikmahnya, hehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s