Belajar dari Perut

Hari ini, makanan sahur nya pedeess banget. Efeknya apa? efeknya adalah saya langsung moncor habis solat subuh. Lalu saya tanya kepada teman saya yang lebih senior, apakah setelah bertahun-tahun, daya tahan perut terhadap level kepedesan itu berkurang, dia menjawab iya.

Aku pun teringat ceritaku pas pulang 1 bulan lalu, aku teringat pas pulang aku langsung diare. Kayaknya saya sudah gak kuat makan makanan dengan level pedas yang sangat tinggi.

Aku pun mulai berfikir, jika perut yang terbiasa dengan makanan tidak pedas (makanan taiwan), kemudian ditodong dengan makanan yang sangat pedas (makanan indonesia), perut bisa berkontraksi dan bergejolak dengan sangat hebat. Itu baru perut, bagaimana dengan hati manusia? Jika hati terbiasa diisi oleh hal-hal negatif, maka standar keimanan manusia akan turun. Sesuatu yang berdosa sudah dianggap tidak berdosa lagi, karena dirinya sudah terbiasa melakukan dosa itu.

Astaghfirullah. Semoga kita bisa membiasakan diri dalam kebaikan, sehingga hati kita masih jernih untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.

*Marhaban Ya Ramadhan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s