Belajar dari Perban

Hari ini, aku buka puasa di masjid besar. Aku duduk disebelah orang Pakistan yang sedang mengalami patah tulang. Tangan kirinya diperban dan dia hanya makan dengan satu tangan. Perban adalah pembalut yang memiliki fungsi untuk menutup luka. Dan pada kasus orang Pakistan ini, perban digunakan untuk membalut tangannya yang patah.

Aku berfikir, Jika tangan yang sakit kita tutupi dengan perban. Bagaimana kalau lidah yang sakit? Jika lidah kita yang sakit, tentu kita harus memperbannya juga. Dengan apa kita memperban lidah yang sakit? lidah kita harus kita perban dengan Dzikrullah dan dengan tilawah agar lidah kita tidak menggunjingkan saudaranya.

Lalu bagaimana kalau hati yang sakit? Dengan apa kita memperbannya? Dengan syukur dan sabar. Rasa syukur dan sabar kita tanamkan dalam hati kita agar senantiasa menerima Takdir Allah dengan hati yang Ridho dengan kenikmatan dan ujian yang Allah berikan kepada kita.

Semoga momentum ramadhan ini bisa memperban Lidah dan hati kita dari sesuatu yang tidak disukai Allah SWT. Aamiin.

*Marhaban ya Ramadhan*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s