Keberkahan = Efisiensi Mesin

Jika kita berbicara tentang suatu mesin. Tidak luput dari yang namanya efisiensi. Apa itu efisiensi? Saya akan mencoba menjelaskan efisiensi dengan menggunakan bahasa saya sendiri (Tentunya ada bahasa yang lebih ilmiah dan lebih rapih). Efisiensi adalah seberapa banyak output yang dihasilkan oleh suatu mesin berbanding dengan Inputnya.

Jika suatu mesin mendapat input sebesar X, kemudian mengeluarkan output sebesar 0.3X, maka efisinya adalah 30%. Semakin besar efisiensi akan semakin baik. Dan idealnya efisiensi adalah 100%. tapi tidak ada suatu mesin yg efisiensinya sampai 100%. (kecuali dalam pelajaran Fisika SMA, hehe).

Lalu, apa hubungannya dengan Keberkahan?

Keberkahan selalu diidentikkan dengan Rizki. Lalu, apa itu Rizki yang barokah?

Para ulama telah banyak membuat definisi tentang apa itu rizki yang barokah (Silahkan cari sendiri definisinya, Jangan malas, hehe, *Menampar diri sendiri*). Kalau saya definisikan rizki yang barokah adalah seberapa besar rizki itu termanfaatkan berbanding dengan rizki yang kita dapatkan. (Jadi bisa diibaratkan rizki yang barokah itu adalah efisiensi dari rizki itu sendiri).

Baik, sebelum berlanjut. Saya mau mengajak anda berfikir tentang hakikat rizki itu sendiri. Saya sebutkan dua contoh saja. Rizki makanan dan Rumah.

Pada hakikatnya, rizki makanan kita adalah yang kita makan, bukan yang kita miliki. Misal kita membeli makanan untuk semeja penuh di sebuah restaurant. Walaupun makanan tersebut sudah kita beli dan sudah menjadi milik kita, pada hakikatnya Itu belum menjadi rizki kita sebelum kita makan. Mengapa? karena pada hakikatnya, makanan adalah sesuatu yang bisa dimakan. Makanan akan menjadi rizki kita ketika sudah kita makan.

Begitupun dengan sebuah Rumah. Alkisah ada seorang Direktur perusahaan yang memiliki gaji yg sangat besar sehingga bisa membeli sebuah villa mewah di Puncak Bogor. Dia sangat sibuk sehingga hampir setiap hari dia lembur dan tidur di kantor. dia tidur di kursi kerja nya dengan tumpukan dokumen yang berada di atas mejanya. Pada hakikatnya, Villa mewah itu bukanlah Rizki sang Direktur, walaupun seara hukum villa itu miliknya. Karena apa? karena hakikat rumah adalah untuk ditinggali, rumah belum menjadi rizki kita ketika kita tidak menempatinya (walaupun kita memilikinya). Rizki siapakah villa mewah itu? itu adalah rizki tukang kebun dan pembantunya yang tinggal di villa tersebut.

Contoh ketiga adalah tentang uang. Alkisah ada orang yang gajinya 10 juta. Tapi tiap bulan selalu ada masalah yang menghabiskan uang gajinya sebesar 7 juta. Bulan pertama kecelakaan mobil, habis 7 juta untuk di bengkel. Bulan kedua kena demam berdarah, habis 7 juta untuk di rumah sakit. Bulan ketiga ATM kecolongan uang 7 juta. Dst. Pada hakikatnya, uang yang menjadi rizki nya hanyalah 3 juta. Yang 7 juta itu miliknya tukang bengkel dan dokter di RS.

Ada juga orang yang gajinya 3 juta. Tapi semuanya baik2 saja, dia dan keluarganya sehat, gak pernah kecolongan, mobil gak pernah tabrakan, dll. Pada hakikatnya, rizki uang yang diterima orang pertama dan kedua sama saja (3 juta).

Semoga Allah memberi keberkahan kepada Rizki kita. Karena semua yang ada di dunia hanyalah milik-Nya, dan kita akan diminta pertanggungjawaban atas harta yang kita terima. Dan bisakah kita menjawab pertanyaan2 itu jika rizki kita tidak barokah?

Dan Semoga Allah menjauhkan diri kita dari rizki-rizki yang haram, Aamiin.

*SelfReminder*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s