About Abu Salman

Hanyalah seorang muslim yang (masih) belajar mencintai Allah dan Rasul-Nya. Suami dari Rima Karimah, Ayah dari Salman Ishaq, Putra dari Fuad Hasyim dan Rofikoh.

Cerita Seram

Minggu ini, aku pulang mengunjungi orang tuaku. Seperti biasa, aku selalu berbincang ngalor ngidul dengan orang tuaku. Sampai perbincangan menuju kepada seseorang yang sudah meninggal. Sebut saja Mr. X

Mr.X adalah (mantan) seorang pemborong yang kaya raya. Tapi ketika berjaya, jarang (terlihat) bersedekah ke keluarga nya. (Banyak keluarganya yang miskin). Daaaaannn yang jelas belum pergi Berhaji. (Bahkan daftar sekalipun belum). Singkatnya, Almarhum Mr.X ini jatuh miskin dan akhirnya meninggal. (Dalam keadaan belum berhaji atau daftar ibadah haji).

Yang lebih seram nya apa? seorang pengusaha kaya raya (yang masih kerabat dengan Mr.X) berkata bahwa Mr.X masih memiliki hutang sebesar 500 Jt ke beliau. Sudah meninggal, belum berhaji, memiliki hutang yang jumlahnya fantastis. seram sekali kan?

Sehingga, orang tua ku senantiasa mewanti-wanti kalau bisa jangan berhutang. Orang tuaku bahkan pernah menjual cincin emas hanya karena tidak ada uang untuk makan. (tekad orang tuaku untuk sebisa mungkin tidak berhutang). Semoga ALLAH senantiasa melindungi kita dari hutang. Aamiin

Terkadang Dosa itu adalah Berkah

Seringkali, dari sudut pandang manusia, dosa adalah suatu hal yang hina. Dalam beberapa kisah, memang benar bahwa dosa membawa pelaku nya menuju kehinaan. Masih ingat kan dengan kisah kiyai Barsiso yang sudah taat selama bertahun-tahun, yang kemudian jatuh dalam rayuan iblis untuk berbuat dosa besar karena ingin beribadah lebih banyak lagi, yang malah membuat ia jatuh dalam kehinaan.

Namun, ada suatu kondisi dimana dosa itu adalah sebuah keberkahan. Yaitu ketika dosa yang tidak disengaja yang secara tidak langsung menegur seorang yang sering beribadah dan berbuat baik agar tidak Ujub dan mengagumi diri nya sendiri.

Sebuah contoh yaitu ketika seseorang senang bersedekah dan berbuat baik, kemudian terbentuklah citra di masyarakat bahwa ia adalah orang baik. Hal ini membuat ia melayang terbang dan hampir menuju suatu titik ujub. Kemudian secara tidak sengaja, dia berbuat dosa dan membuat citra baik dia di hadapan masyarakat menjadi luntur. Dia pun akhirnya menyadari bahwa dia hampir ujub, dan kemudian beristighfar meminta ampun kepada ALLAH. Yang akhirnya Allah pun mengangkat derajatnya sebab ALLAH ridho kepada nya sebagai hamba yang bertaubat.

Namun, perlu diingat bahwa kita tidak boleh meremehkan sebuah Dosa, karena kita tidak tahu dosa mana yang akan membawa kita ke neraka. Dan janganlah kita meremehkan suatu kebaikan, karena kita tidak tahu kebaikan mana yang membuat ALLAH ridho dan membawa kita ke syurga dengan Ridho-Nya.

Si Sukar

Tahun ini, alhamdulillah untuk kelima kali nya kami harus mengeluarkan zakat mal. Kadang, zakat mal tersebut kami salurkan ke tetangga kami di Subang, dan kadang kami salurkan ke keluarga kami di Cirebon. Untuk tahun ini, zakat mal sebagian kami salurkan ke tetangga dan sebagian kami salurkan ke keluarga.

Singkatnya, kami bagi rata x ratus ribu rupiah/orang, dengan orang-orang yang dipilih oleh tetangga kami yang merupakan warga asli pribumi. Kami sisakan lebihan untuk 2 orang yang tiba-tiba protes, karena sering nya ada saja orang yang komplain, “Kok, saya miskin tidak dapat”.

Setelah dibagikan, kami minta 1 orang tambahan untuk diberikan. Diusulkan lah seseorang yang bernama SUKAR. Akhirnya kami berencana ingin memberikan sisa zakat tersebut ke Mang Sukar. Ketika mau berangkat, kami ditahan oleh tetangga kami, yang menyampaikan bahwa ada orang yang protes kenapa “mang ade” belum dikasih. Ooh baiklah aku ganti nama SUkar dengan Mang Ade. Toh, mang sukar juga belum tau kalau dia akan menerima zakat. Tapi mang ade sudah protes. Akhirnya saya ganti dengan mang ade.

Itulah kisah seorang yang bernama SUKAR… udah mah kelupaan untuk diberikan zakat. Pas mau berangkat untuk diberi zakat, di sarankan tidak perlu karena ada yang protes. Wahai orang tua, berhati-hatilah dalam memberi nama, karena nama adalah DOA.

Ekonomi atau Keselamatan?

Seperti yang kita ketahui bahwa sekarang sedang musim wabah virus corona (covid-19). Banyak negara-negara melarang aktivitas yang berkaitan dengan kerumunan masal. Institusi pendidikan, dan beberapa industri menerapkan work from home. Tidak sedikit juga perusahaan yang menutup aktivitas bisnis nya karena turunnya permintaan konsumen. Tukang ojek online ataupun offline pun sudah semakin sepi pelanggan.

Virus corona membuat banyak kekacauan di negara-negara di Dunia. Makhluk kecil yang tidak terlihat mampu membuat kekacauan di seluruh dunia. Itulah tanda lemahnya manusia, dan jika Allah berkehendak, apapun akan terjadi.

Aku berfikiri, manakah yang lebih utama? mengutamakan keselamatan atau menjaga stabilitas ekonomi?

Jika keselamatan ini bersifat jelas dan terukur, tentu tak ragu kita harus utamakan keselamatan. (Contoh, orang-orang bekerja di ketinggian harus pakai alat pelindung diri). COntoh lain (pakai helm kalau bepergian, atau hal-hal yang dapat terukur dengan jelas). Untuk hal-hal seperti ini, keselamatan harus diutamakan.

Namun, jika kondisi nya terkait hal-hal yang tidak kasat mata. (Virus dengan ukuran yang sangat kecil). apakah tindakan preventive untuk mencegah hal-hal yang tidak kasat mata dengan mengorbankan stabilitas ekonomi lebih diutamakan?

Banyak buruh harian yang kehilangan pendapatan, banyak pedagang asongan yang semakin sulit mencari makan. Dan banyak lagi pihak-pihak yang menerima dampak terkait adanya pembatasan aktivitas kerumunan masal. (Untuk sesuatu yang masih tidak jelas keberadaaannya).

Manakah yang lebih diutamakan? Aku pun tak tahu. karena aku bukanlah ahli ekonomi ataupun ahli kesehatan, apalagi aktivis kemanusiaan. Aku hanyalah seorang insinyur di sebuah industri manufacturing yang masih ALLAH karuniai pekerjaan ditengah wabah virus corona ini. Tapi satu hal yang pasti, kita harus senantia menggantungkan nasib kita kepada ALLAH SWT yang maha kaya. Semoga ALLAH SWT senantiasa melindungi kita semua. aamiin.

Kiyai Kampung

Kemuliaan seseorang acapkali berhubungan dengan kedudukan, harta, profesi yang popular, ilmu pengetahuan, paras, dan hal-hal lain yang bisa diterawang oleh panca indra dan atau nalar manusia. Pengusaha sukses dihormati karena harta nya. Dokter dihormati karena profesi nya yang popular. Dosen dihormati karena ilmu pengetahuannya, dan lain sebagainya.

Apa hakikat kemuliaan yang sesungguhnya? Hakikat kemuliaan yang sesungguhnya adalah ketika Allah ridho terhadap apa yang kita lakukan, dan ketika apa yang kita lakukan memberi manfaat walaupun sedikit.

Sosok kiyai kampung adalah sebuah pekerjaan yang sangat mulia. Insan yang mengajari bocah-bocah cilik untuk mengeja huruf hijaiyah. Sosok tua yang menjadi imam masjid di pojok desa yang penerangan pun belum sempurna. Mereka lah para wali-wali Allah yang membuat Allah ridho kepada mereka, dan mereka ridho kepada ketentuan Allah.

Semoga Allah memuliakan para kiyai-kiyai di kampung-kampung yang mengajarkan A Ba Ta Tsa tanpa perlu direkam oleh media mainstream. Semoga kita bisa meneladani keikhlasan para kiyai kampung dalam menyebarkan agama ALLAH tanpa hingar bingar pujian dan tepuk tangan manusia, Aamiin.